icha

Toad Jumping Up and Down

10/03/15

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM



LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
PRODUKSI BENIH BERSERTIFIKAT
“BENIH JAGUNG”

Disusun Oleh :
1.      Renzo Adi Mulya                   J3G112031
2.      Irda Novelina Hutagalung      J3G112014
3.      Eliza Mutiara                           J3G112076
4.      Asep septiana                          J3G112094
5.      Icha Viasti Mabrukah             J3G212117
6.      Muhammad Firmanudin         J3G212133
7.      Dewi Maryam                         J3G412212
TIB B1-3
Dosen :
Maryati Sari, SP, M.Si
Dr. Ir. Endah R. Palupi, M.Sc
Asisten :
Afrizal Ahmad N., SP
Sahrul Ganda, SP
Miseri Cordias, A.Md
Ratna, A.Md
Mart Nova, A.Md

Ipb.jpg


  
PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014



Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat, taufik dan hidayah-Nya laporan ini dapat terselesaikan dengan baik dalam memenuhi salah satu tugas Praktikum Produksi Benih Bersertifikat. Laporan  ini diharapkan tidak hanya untuk memenuhi syarat nilai praktikum saja, tetapi juga diharapkan dapat berguna dalam menambah wawasan bagi pembaca.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada tim dosen pengajar Praktikum Produksi Benih Bersertifikat sehingga penulisan laporan ini dapat diselesaikan dengan baik, kepada kelompok B1-3, serta kepada teman-teman TIB angkatan 49 yang telah saling bekerjasama dan mendukung dalam proses pembuatan laporan ini.
Kami menyadari bahwa di dalam penyusunan laporan ini terdapat banyak kekurangan oleh karenanya saran dan kritik untuk perbaikan sangat diharapkan demi kesempurnaan dalam pembuatan laporan dilain waktu.



Bogor, 7 Juni 2014








KATA PENGANTAR............................................................................................. I
DAFTAR ISI.......................................................................................................... II
DAFTAR TABEL................................................................................................. III
DAFTAR GAMBAR............................................................................................ IV
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................... V
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... VI
A.    Latar Belakang........................................................................................ VI
B.    Tujuan..................................................................................................... VI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 7
BAB III METODOLOGI....................................................................................... 8
A.    Waktu dan Tempat................................................................................... 8
B.    Bahan Dan Alat........................................................................................ 8
C.    Metode Percobaan.................................................................................... 8
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................. 12
A.    Hasil........................................................................................................ 12
B.    Pembahasan............................................................................................. 12
BAB V KESIMPULAN....................................................................................... 13
A.    Kesimpulan............................................................................................. 13
B.    Saran....................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 14
LAMPIRAN.......................................................................................................... 15



DAFTAR GAMBAR

gambar 1. Jagung yang dibuka klobotnya.............................................................. 19
gambar 2. Warna Rambut Jagung Siap Panen....................................................... 19
gambar 3. Penanganan Pasca Panen....................................................................... 20
gambar 4. CVL (Batang)....................................................................................... 21
gambar 5. Batang Varietas Bisma.......................................................................... 21
gambar 6. Tasel Jagung CVL................................................................................. 22
gambar 7. Tasel Jagung Var. Bisma....................................................................... 22
gambar 8. Rambut Jagung Var. Bisma................................................................... 22
gambar 9. Proses Pemanenan Tongkol................................................................... 27
gambar 11. Pembuangan Klobot............................................................................ 27
gambar 12. Pengumpulan jagung Siap Olah.......................................................... 27











Lampiran 1. Peta Lahan ........................................................................................ 25
Lampiran 2. Formulir Permohonan Sertifikasi....................................................... 26
Lampiran 3. Peta Lahan......................................................................................... 26
Lampiran 4. Proses Pemanenan.............................................................................. 27

















PENDAHULUAN

Untuk mendapatkan benih bersertifikat, produsen harus melewati serangkaian proses sertifikasi. Sertifikasi benih adalah proses pemberian sertifikat benih tanaman setelah melalui pemeriksaan, pengujian, dan pengawasan, serta memenuhi syarat untuk diedarkan. Dilakukan untuk benih baik  secara perbanyakan vegetatif maupun generatif sesuai dengan kelas benih yang bersangkutan. Proses sertifikasi melalui beberapa tahapan yang harus dilakukan secara berurutan, antara lain permohonan sertifikasi, pemeriksaan lapang, pemeriksaan alat panen dan fasilitas pengolahan serta gudang penyimpanan, pengambilan contoh benih, pengujian laboratoris, dan pengawasan pemasangan label. Tujuan sertifikasi benih tak lain adalah untuk memelihara kemurnian dan mutu benih dari suatu varietas yang telah dilepas oleh menteri pertanian serta untuk melindungi petani dalam menggunakan benih bermutu dan menyediakan secara berkelanjutan kepada petani. Kegiatan produksi dan sertifikasi benih jagung selain untuk memelihara kemurnian dan mutu benih juga ditujukan untuk melihat kebenaran benih sesuai dengan label yang tertera pada kemasan.
Produksi benih tanaman jagung dapat dipengaruhi oleh lingkungan seperti iklim, kondisi lahan, dan unsur hara. Unsur hara dapat diberikan melalui pemupukan. Dosis, cara dan waktu pemupukan yang tepat serta pengolahan tanah yang baik, dapat membantu meningkatkan ketersediaan hara yang diperlukan tanaman.
Produksi benih merupakan kepanjangan tangan dari pemulia tanaman sehingga harus mampu mempertahankan kebenaran dan kemurnian genetik varietas yang di produksi. Benih sumber yang digunakan, sejarah lahan, isolasi lahan dan kualitas rouging harus mendapat perhatian serius untuk mendapatkan benih dengan mutu genetic yang tinggi. Pengolahan benih dengan baik juga diperlukan untuk menghasilkan mutu fisik yang tinggi.
Setiap produsen/penangkar benih tentu telah menyadari hal tersebut. Namun demikian dalam system perdagangan diperlukan pihak ketiga yang diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap proses produksi dan melakukan pengujian terhadap mutu benih yang diproduksi dan akhirnya memberikan sertifikasi sebagai suatu bentuk jaminan mutu.
Praktikum produksi dan sertifikasi benih ini bertujuan untuk mendapatkan benih yang bermutu tinggi dan benih yang bersertifikat. Selain itu juga bertujuan untuk melatih mahasiswa menjadi produsen benih yang baik.

TINJAUAN PUSTAKA

Sertifikasi benih adalah suatu sistem atau mekanisme pengujian benih berkala untuk mengarahkan, mengendalikan, dan mengorganisasi perbanyakan dan produksi benih. Sertifikasi benih merupakan sistem bersanksi resmi untuk perbanyakan dan produksi benih yang terkontrol. Tujuannya adalah untuk memelihara dan menyediakan benih serta bahan perbanyakan tanaman bermutu tinggi dari varietas berdaya hasil tinggi bagi masyarakat sehingga dapat ditanam dan didistribusikan dengan identitas genetik yang terjamin. Dengan kata lain, tujuan sertifikasi benih adalah untuk memberikan jaminan bagi pembeli benih (petani atau penangkar benih) tentang beberapa aspek mutu yang penting, yang tidak dapat ditentukan dengan segera, dengan hanya memeriksa benihnya saja. Penerimaan manfaat dari sertifikasi benih adalah perkembangan pertanian karena sistem dan program sertifikasi benih yang efektif memungkinkan benih bermutu tinggi tersedia bagi petani. Pedagang benih memperoleh manfaat karena benih yang disertifikasi merupakan sumber pasokan benih yang otentik dan tinggi mutunya. Produsen benih memperoleh manfaat karena sertifikasi benih memungkinkan tersedianya program pengendalian mutu yang ketat, yang lazimnya di luar kemampuannya. Petani memperoleh manfaat karena dapat mengharapkan bahwa benih bersertifikat yang dibelinya akan memiliki sifat-sifat varietas yang diinginkan (Mugnisjah,1991).
Adapun kegiatan-kegiatan dalam proses sertifikasi benih yaitu check plot, pemeriksaan lapang pendahuluan, pemeriksaan lapang fase vegetatif, pemeriksaan lapang fase berbunga/generatif, pemeriksaan lapang fase menjelang panen, pengambilan contoh benih, dan pemeriksaan alat panen dan pengolahan.
            Pemeriksaan lapang pendahuluan dilakukan bertujuan untuk mengetahui kebenaran yang ada pada formulir permohonan dengan data di lapangan. Pemeriksaan lapang pendahuluan dilakukan sebelum lahan penanaman digunakan. Produsen benih terlebih dahulu mengajukan permohonan pemeriksaan lapang untuk sertifikasi benih, diajukan paling lambat satu minggu sebelum pelaksanaan pemeriksaan lapang. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan lapang pendahuluan yaitu kebenaran nama dan alamat penangkar, kebenaran letak dan situasi areal sertifikasi, kebenaran sumber benih, sejarah lahan, isolasi jarak dan waktu, serta kebenaran batas-batas areal sesuai dengan data lapangan yang terlampir.Pada kegiatan ini, petugas BPSB melakukan pemeriksaan secara global yaitu dengan cara mengelilingi areal pertanaman untuk memeriksa kebenaran isolasi jarak atau waktu sehingga dapat mempertahankan benih agar tidak tercampur dengan varietas lain. Setelah dilakukan pemeriksaan global, tahap selanjutnya yaitu melakukan penyesuaian antara keterangan areal pada surat permohonan dengan kondisi lapang.
Pemeriksaan lapang fase vegetatif dapat dilaksanakan setelah menunjukkan bukti kelulusan pemeriksaan lapang pendahuluan. Pemeriksaan lapang ini bertujuan untuk memeriksa kebenaran varietas pertanaman dengan membandingkan karakteristik tanaman produksi di lapang dengan deskripsi tanaman yang sebenarnya.Pemeriksaan lapang ini dilakukan dengan mengelilingi areal untuk melihat isolasi jarak, isolasi waktu, dan keadaan tanaman. Selain itu, kesehatan tanaman juga perlu diperhatikan. Selanjutnya menentukan petak contoh tanaman secara acak untuk dilakukan pemeriksaan.Pemeriksaan dilakukan secara acak pada areal pertanaman. Campuran Varietas Lain (CVL) berdasarkan tipe pertumbuhan, kehalusan daun, warna dan lebar daun,warna pangkal batang, dan tinggi tanaman. Apabila saat pemeriksaan ditemukan tanaman dengan ciri-ciri yang tidak sesuai dengan deskripsi tanaman produksi maka tanaman tersebut harus dicabut agar tidak terjadi percampuran varietas.
Pemeriksaan lapang fase berbunga/generatif dilaksanakan apabila pemeriksaan lapang fase vagetatif dinyatakan lulus. Tujuan dari pemeriksaan lapang ini adalah untuk mempertahankan mutu genetik dengan cara memeriksa CVL dan tipe simpang yang dapat menurunkan kemurnian suatu varietas.
Pemeriksaan lapang ini dilakukan antara 25-30 hari sebelum panen atau 50-60 hari setelah tanam apabila pemeriksaan lapang sebelumnya dinyatakan lulus. Pemeriksaan lapang fase berbunga/generatif sama halnya dengan pemeriksaan sebelumnya baik dalam menentukan jumlah petak contoh maupun dalam penentuan CVL. Sebelum pemeriksaan dilakukan, produsen harus mengajukan surat permohonan 1 minggu sebelumnya, dan disertai bukti kelulusan pemeriksaan lapang sebelumnya. Parameter yang diamati dalam pemeriksaan lapang fase berbunga/generatif adalah tipe bentukdaun, warnapangkalbatang, warnarambut jangle. Pemerikasaan lapang fase menjelang panen dilakukan setelah pemerikasaan lapang fase generatif/berbunga mendapatkan bukti kelulusan. Tujuan pemerikasaan lapang ini yaitu untuk mengetahui kebenaran varietas pada tanaman dan membandingkan dengan deskripsi varietas tanaman yang dimaksud.
Contoh benih harus diambil oleh petugas pengambil contoh yang sudah mengikuti latihan dan berpengalaman dalam pengambilan contoh. Petugas harus independen, bebas tekanan komersial serta mengikuti aturan pengambilan contoh yang sudah ditetapkan. Lot benih harus ditata/disusun atau diatur secara baik sehingga setiap wadah mempunyai kemungkinan yang sama untuk diambil contohnya. Contoh primer dengan ukuran yang kira-kira sama seharusnya diambil dari setiap wadah atau dari setiap titik pengambilan, pada wadah tertentu atau tumpukan benih dari lot yang sama.Apabila benih dikemas dalam wadah, pengambilan contoh harus diacak atau dibuat rencana pengambilan secara sistematis. Pengambilan contoh harus diambil dari bagian atas, tengah, dan bawah, dan tidak hanya dari satu posisi dalam wadah kecuali volume sesuai dengan daftar intensitas pengambilan contoh. Sedangkan untuk benih curah atau wadah yang besar maka pengambilan contoh harus diambil secara acak dari berbagi posisi dan kedalaman.(ISTA,2004)




METODOLOGI

        Praktikum produksi benih bersertifikat dilaksanakan di lahan GG kampus IPB, pada hari Kamis, pukul 07.00 WIB s/d 11.00. Praktikum ini dilaksanakan dari tanggal 6 februari 2014 sampai 3 Juni 2014.
Bahan dan alat yang digunakan dalam produksi benih bersertifikat dibagi menjadi beberapa macam antara lain :
B.1. Bahan dan Alat Tanam
Bahan tanam yang digunakan antara lain adalah benih jagung varietas
bisma yang merupakan kelas benih dasar, kaptan, furadan. Alat tanam yang digunakan adalah traktor, cangkul, tugal, gerobak, angkong, tali rafia, tugal.
B.2. Bahan dan Alat Pemeliharaan
Bahan yang digunakan untuk pemeliharaan tanaman antara lain curacron, antrakol, dithane, perekat. Alat yang digunakan untuk pemeliharaan adalah cangkul, tugal, sprayer (penyemprot).
B.3. Bahan dan Alat Pemanenan
Bahan yang digunakan untuk pemanenan jagung adalah karung. Alat yang digunakan untuk pemanenan adalah gunting stek, gerobak, angkong, timbangan.
B.4. Bahan dan Alat pengolahan
Bahan yang digunakan untuk pengolahan adalah benih jagung. Alat pengolahan yang digunakan adalah alat perontok jagung (Power thresher).
C.1. Pemeriksaan Lapang Pendahuluan
Kegiatan awal yang kami lakukan yaitu memeriksa lahan yang akan digunakan untuk penanaman benih bersertifikat, yaitu pemeriksaan  sejarah lahan (bekas tanaman sebelumnya), isolasi (jarak dan waktu), memeriksa tanaman apa saja yang ada disekitar lahan yang akan digunakan untuk produksi benih (batas-batas : utara, selatan, timur, barat), dan pembuatan peta lahan produksi.
C.2. Permohonan Sertifikasi
Pengajuan permohonan sertifikasi benih dilakukan oleh produsen atau penangkar benih. Permohonan sertifikasi benih diajukan kepada  BPSBTPH paling lambat 10 hari sebelum benih disebar dengan cara mengisi formulir permohonan sertifikasi yang telah disediakan oleh BPSBTPH (lampiran Gb.5). Satu formulir permohonan sertifikasi hanya berlaku untuk satu areal sertifikasi dari satu varietas dan satu kelas benih yang dihasilkan.  Permohonan sertifikasi harus dilampiri label benih sumber yang ditanam dan peta lapangan (lampiran Gb. 6). Selanjutnya, areal sertifikasi akan diperiksa terlebih dahulu oleh petugas pengawas benih sebelum persetujuan sertifikasi dikeluarkan.
C.3. Pengolahan Lahan
Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk pengolahan. Luasan lahan yang akan diolah yaitu 0.0835 Ha. Pengolahan lahan menggunakan hand tractor, cangkul, kored, dengan membolak balikkan tanah hingga gembur. Setelah gembur tanah diratakan.
C.4. Pembuatan Bedengan dan Penanaman
Menyiapkan alat dan bahan. pembuatan bedengan berdasarkan jarak tanam yang telah ditentukan yaitu 80 cm x 30 cm. setelah itu, lubang tanam dibuat menggunakan tugal disetiap bedengan yang telah siap. Lalu benih jagung yang telah disiapkan ditanam disetiap lubang tanam yang telah dibuat. Setiap 2 butir benih jagung untuk satu lubang tanam. Furadan diberikan saat penanaman benih jagung. Selanjutnya lubang tanam ditutup.
C.5 Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan yaitu penjarangan, pembumbunan dan pengendalian gulma (sanitasi), pengendalian HPT, pemupukan, pemotekan batang jagung, dan pembukaan klobot. Kegiatan pemeliharaan akan dijelaskan sebagai berikut.
C5.1. Penjarangan
Penjarangan dilakukan sebelum pemeriksaan lapangan oleh petugas BPSBTPH. Penjarangan pada tanaman-tanaman selain tanaman budidaya/selain tanaman yang dimaksud produsen seperti CVL (campuran varietas lain) dengan ciri-ciri pangkal batang yang berwarna hijau, tanaman tipe simpang, dan tanaman yang sakit. Untuk penjarangan bunga betina yang terdapat pada jagung varietas lain dilakukan saat fase generatif.
C.5.2. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan kegiatan sanitasi (pengendalian gulma). Dan dilakukan setiap minggu untuk meminimalisir pertumbuhan gulma.
C.5.3. Pengendalian HPT
Pengendalian HPT dilakukan pada minggu ketiga . selanjutnya dilakukan rutin setiap minggu untuk meminimalisir serangan HPT. Metode yang digunakan yaitu dengan menyemprot menggunakan sprayer dengan fungisida (dithane, antrakol), insektisida (curacron), dan perekat (yosan).
C.5.4. Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada minggu ketiga setelah tanam. Pemupukan pada awal pengolahan menggunakan pupuk dasar yaitu pupuk kandang ayam. Pemupukan pada saat penanaman atau pada saat tanaman berumur 0 MST menggunakan pupuk urea, P205, dan K20. Selanjutnya pemupukan dilakukan pada 3 MST dengan pupuk NPK. Metode pemupukan yang dilakukan yaitu dengan cara pembuatan alur di antara tanaman budidaya, dan selanjutnya ditutup dengan tanah.
C.5.5. Pemotekan Batang Jagung
Kegiatan ini dilakukan pada saat menjelang panen, yaitu 2 minggu sebelum pemanenan. Batang jagung yang bukan CVL bagian atasnya / bagian setelah tumbuh jagung dipotek.
C.5.6. Pembukaan Klobot
Kegiatan ini dilakukan pada saat 1 minggu menjelang panen. Klobot pada jagung baik yang telah berwarna kuning maupun yang masih berwarna hijau dibuka sampai biji-biji jagung terlihat. Lalu dibiarkan selama ± 1 minggu.
C.6. Pemeriksaan Lapang I (Fase Vegetatif / Fase Pertumbuhan)
Pemeriksaan dilakukan setelah mendapatkan bukti lulus dari pemeriksaan lapang pendahuluan, dan pemeriksaan dilakukan oleh petugas atau pengawas benih. Selanjutnya pemeriksaan global dengan cara mngelilingi areal untuk melihat isolasi jarak, isolasi waktu, dan keadaan pertanaman.  Lalu petugas BPSB meminta peta areal dan penentuan blok. Lalu petugas BPSB meminta perhitungan jumlah pemeriksaan yang diperlukan menurut ketentuan yang berlaku, dan persentase campuran varietas lain dan tipe simpang dengan rumus :
CVL = Ʃ CVL dan tipe simpang        x 100 %
            Ʃ contoh pemeriksaan
C.7. Pemeriksaan Lapang II (Fase Generatif / Berbunga)
Prosedur pemeriksaan hampir sama dengan pemeriksaan lapang I, perbedaannya terdapat factor-faktor yang diamati, diantaranya jumlah CVL,
C.8. Pemeriksaan Lapang III (Fase Masak)
Pemeriksaan fase masak dilakukan 7 hari sebelum pemanenan, akan tetapi pemeriksaan tidak dapat dilakukan dikarenakan tanaman tidak lulu pada pemeriksaan lapang II.

HASIL DAN PEMBAHASAN


No
Kelompok
Bobot kering pipil (kg)
1
1
145,5
2
2
96,5
3
3
119,6
4
4
62,5
5
5
101,5
Jumlah total
525,6


B.     Pembahasan
B.1. Persiapan lahan
Tanah yang dipilih sebagai lahan produksi benih jagung bersertifikat berlokasi di Jl. Lodaya 2, Kec. Bogor Tengah. Tepatnya di kampus GG Diploma IPB.Lahan seluas 750 M2 ini merupakan tanah hak milik Program Diploma Institut Pertanian Bogor. Sebelah timur berbatasan dengan tanaman jagung, lahan TIB kelas A praktikum 1, bagian selatan berbatasan dengan parkiran motor, sebelah barat berbatasan dengan tanaman kedelai TIB kelas A praktikum 2, sedangkan bagian utara berbatasan dengan saluran air. Lahan ini merupakan tanah bekas tanaman kacang tanah yang di budidayakan oleh salah satu program keahlian yang ada di Diploma IPB sebagai praktikum.
Mengajukan formulir permohonan sertifikasi pendahuluan kepada BPSB (seperti pada lampiran 1) minimal 10 hari sebelum pengolahan lahan atau 1 minggu sebelum penanaman. Pengajuan formulir permohonan sertifikasi dilampirkan peta lokasi lahan dan label benih yang akan digunakan sebagai sumber benih. BPSB kemudian meninjau secara langsung ke lahan, untuk memeriksa kebenaran isi dalam formulir permohonan. Setelah dinyatakan lulus pendahuluan oleh BPSB,kemudian dilanjutkan dengan pengolahan  lahan untuk persiapan penanaman benih.
Pengolahan lahan diawali dengan proses pembajakan tanah. Kegiatan ini dilaksanakan bertujuan untuk menggemburkan tanah. Lahan yang digunakan untuk produksi benih harus tanah yang subur agar tersedia hara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. Pembajakan sawah dilakukan dengan prinsip membalik tanah kemudian dilajutkan dengan garu. Tanah digaru untuk menghancurkan tanah yang masih berbentuk bongkahan-bongkahan. Akar akan sulit berkembang masih berbentuk bongkahan. Selain itu juga akan menyulitkan tahap selanjutnya seperti penanaman benih.
Lahan dibersihkan dari gulma dan tanaman volentir yang masih tertinggal. Hal ini bertujuan untuk menjaga kemurnian benih yang diproduksi. Agar tidak ada campuran benih gulma dan tanaman lain yang dapat menurunkan mutu benih. Identifikasi sejarah lahan dilakukan untuk mengetahui jenis dan varietas tanaman yang pernah ditanam sebelumnya.
Hasil yang diperoleh dari identifikasi sejarah lahan yaitu bahwa lahan yang akan digunakan sebagai produksi benih bersertifikat ini adalah bekas tanaman kacang tanah. Oleh sebab itu tanah tidak perlu diberakan terlebih dahulu karena tanaman tersebut berbeda jenis dengan tanaman yang akan diusahakan. Namun usaha untuk menjaga kemurnian benih tetap dilakukan. Pengendalian gulma sebelum penanaman dilakukan dengan cara manual karena tanah telah dibajak terlebih dahulu sehingga yang tertinggal tidak terlalu banyak. Gulma dan tanaman lain yang ada dilahan tersebut dicabut kemudian dibuang ke luar area produksi.
B.2. Sumber benih
Benih sumber yang digunakan dalam praktek produksi benih bersertifikat yaitu kelas benih dasar Benih dasar merupakan turunan pertama (F1) dari benih penjenis. Benih dasar diproduksi oleh Balai Benih dan prosesnya diawasi dan disertifikasi oleh BPSB. Benih jenis ini diberi label warna putih.Kelas benih ini dapat diproduksi untuk mendapatkan benih kelas pokok yang memiliki warna label ungu ataupun kelas benih sebar yang memiliki warna label biru. Benih yang digunakan bersumber dari balit sereal maros.
B.3. Isolasi
Isolasi jarak dan waktu merupakan tindakan perlindungan terhadap penyerbukan silang oleh varietas lain, baik dari dalammaupun sekitar lahan produksi (Ardjanhar, A : 2008). Isolasi jarak yang digunakan dalam produksi benih jagung minimal 200 M. Sedangkanisolasi waktu digunakan ketika isolasi jarak tidak memenuhi syarat untuk pertanaman produksi benih bersertifikat. Menurut ISTA isolasi waktu yang tepat untuk produksi benih jagung yaitu minimal 30 hari.
            Kondisi disekitar lahan yang akan digunakan untuk produksi benih, tidak ada pertanaman jagung yang berbeda varietas. Disamping sebelah timur bersebelahan dengan tanaman jagung yang memiliki varietas sama dan bertujuan untuk benih. Waktu penanaman hanya selisih sehari, sehingga isolasi jarak dan waktu tidak berpengaruh terhadap penanaman benih.
B.4. Teknik budidaya
            Lahan yang telah diolah kemudian diberi pupuk kandang ayam sebanyak 15 karung dengan bobot 50 kg/karung. Pupuk kandang disebar secara merata pada lahan yang akan ditanami benih. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 80 cm x 30 cm, arah alur penanaman menghadap ke timur. Penanaman dilakukan dengan cara ditugal kemudian ditanam 2 butir perlubang.
Pemupukan diaplikasikan dengan sistem alur. Alur pupuk dibuat disebelah lubang tanam sepanjang alur pertanaman. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk urea, SP36, dan KCl. Pupuk urea sebagai sumber nitrogen digunakan dengan dosis 300 kg/ha dan diterapkan dua kali aplikasi. Sedangkan SP36 sebagai sumber posfor dan KCl sebagai sumber kalium menggunakan dosis 200 kg/ha. Luas lahan yang digunakan yaitu 750 m2, sehingga pupuk yang dibutuhkan yaitu  22,5 kg pupuk urea dan 15 kg untuk pupuk SP36 serta KCl.
            Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dilakukan dengan cara menyemprotkan insektisida, fungisida, dan perekat setiap 1 minggu sekali. Insektisida yang digunakan yaitu Furadan dan Curacron. Kedua isektisida ini diaplikasikan secara bergantian dalam proses penyemprotan dengan metode selang seling. Sedangkan fungisida yang digunakan yaitu Antracol, yang memiliki bahan aktif propineb 7%, sedangkan sebagai perekat diaplikasikan AB Stick.Bahan kimia ini diaplikasikan untuk mengendalikan hama penyerang tanaman. Yang mana hama ini sangat membahayakan karena akan menurunkan produktivitas. Selain itu juga akan menyebabkan benih yang dihasilkan tidak sehat karena terserang penyakit. Benih yang dikomersilkan diharapkan memiliki mutu fisik, fisiologi, dan kesehatan benih yang tinggi.
            Selain pemberian zat kimia sebagai pengendali OPT, juga dilakukan penyiangan (pembuangan gulma) dan pembumbunan setiap minggu. Penyiangan  bertujuan untuk menghasilkan kemurnian benih yang tinggi. Benih jagung yang dihasilkan diharapkan terhindar dari campuran benih tanaman lain. Sedangkan pembumbunan bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang kokoh. Kegiatan ini dilakukan setiap minggu secara rutin hingga tanaman siap panen.
Setelah penanaman, kembali mengajukan permohonan untuk pemeriksaan fase vegetatif. Saat tanaman berumur 2 MST (minggu setelah tanam) kembali dilakukan pemeriksaan fase vegetatif oleh BPSB. Dalam pemeriksaan fase vegetatif hal yang diperhatikan yaitu meliputi warna pangkal batang dan warna daun. Menurut deskripsi varietas yang dikeluarkan oleh kementrian pertanian tahun 2010, jagung varietas bisma memilki pangkal batang berwarna ungu dan daun berwarna hijau tua.

B.5. Pemanenan
Setelah semua rangkaian proses produksi sertifikasai dilakukan, selanjutnya jagung dipanen dengan tujuan pembelajaran untuk mahasiswa agar mengetahui proses setelah panen. Tanaman jagung dipanen pada umur 96 hari setelah ditanam. Seminggu sebelum
      gambar 1. Jagung yang dibuka klobotnya
pemanenan, tanaman dipangkas diatas tongkol dengan tujuan agar cahaya matahari penuh menyinari tongkol yang sudah dibuka klobotnya. Waktu panen jagung di pengaruhi oleh jenis varietas yang ditanam, ketinggian lahan, cuaca dan derajat masak. Umur panen jagung umumnya sudah cukup masak dan siap dipanen pada umur 7 minggu setelah berbunga. Pemanenan dilakukan apabila jagung cukup tua yaitu bila kulit jagung sudah kuning. Pemeriksaan dikebun dapat dilakukan dengan menekankan kuku ibu jari pada bijinya, bila tidak membekas jagung dapat segera dipanen. Jagung yang dipanen prematur butirannya keriput dan setelah dikeringkan akan menghasilkan butir pecah atau butirnya rusak setelah proses pemipilan. Apabila dipanen lewat waktunya juga akan banyak butiran jagung yang rusak.




gambar 2. Warna Rambut Jagung Siap Panen
Pemanenan sebaiknya dilakukan saat tidak turun hujan sehingga pengeringan dapat segera dilakukan. Umumya jagung dipanen dalam keadaan tongkol berkelobot (berkulit).  Penanganan pasca panen bisa dengan cara pengeringan, pada umumnya dilakukan dengan menghamparkan jagung dibawah terik matahari menggunakan alas tikar atau terpal. Pada waktu cerah penjemuran dapat dilakukan selama 3-4 hari. Dapat juga menggunakan mesin grain dryer. Kemudian jagung dipipil, agar segera dijemur kembali sampai kering konstan (kadar air kurang lebih 12%) agar dapat disimpan lama, biasanya memerlukan waktu penjemuran 60 jam sinar matahari. Pengolahan jagung ada 2 macam yaitu : 

  1. Pengolahan basah (wet process), adalah pengolahan jagung yang dilakukan dengan merendam jagung terlebih dahulu di dalam air sehingga menghancurkannya lebih mudah, dan setelah itu dikeringkan. 
  2. Pengolahan kering (dry process), adalah pengolahan secara kering tanpa perendaman, biasanya menghancurkannya lebih sukar dibandingkan dengan cara basah. 
Penanganan pasca panen jagung adalah semua kegiatan yang dilakukan sejak jagung dipanen sampai dipasarkan kepada konsumen, kegiatannya meliputi : pemanenan,pengangkutan, pengeringan, penundaan, perontokan dan penyimpanan. Kegiatan penanganan pasca panen pada umumnya dilakukan oleh petani, kelompok tani, koperasi dan para pedagang pengumpul serta
gambar 3. Penanganan Pasca Panen
didukung oleh berbagai lembaga dalam masyarakat dalam satu kesatuan, maka disebut dengan istilah Sistem Penanganan Pasca Panen. Cara penanganan panen dan pasca panen yang kurang baik akan memberikan dampak yang buruk terhadap mutu jagung, apabila mutu jagung menurun, maka harga jual menurun dan pendapatan petani menjadi lebih rendah. Faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi baik buruknya mutu jagung adalah adanya jamur dan cendawan yang ditandai dengan warna kehitam-hitaman, kehijau-hijauan atau putih pada buah jagung. Salah satu diantara jamur tersebut adalah Aspergilus sp yang menghasilkan racun aslatoksin dan berbahaya bagi manusia maupun ternak lainnya, jamur tersebut dapat dimatikan dengan pemanasan tetapi racunnya tidak dapat ditangkal dengan pemanasan. 
Penyebab tanaman jagung tidak lulus sertifikasi yaitu karena banyaknya CVL (campuran varietas lain) dan tipe simpang dengan persentase CVL yaitu lebih dari 2%. Sedangkan standar CVL maksimum untuk sertifikasi jagung yaitu 2%.  CVL dapat diidentifikasi dari warna batang, warna rambut tongkol, dan warna bunga. Batang dari jagung campuran varietas lain yang dimaksud yaitu berwarna hijau, seperti yang terlihat pada gambar 4. Sedangkan warna batang dari jagung varietas bisma yaitu ungu/merah keunguan, seperti pada gambar 5.
                                                           




       
gambar 4. CVL (Batang)




                                                 gambar 5. Batang Varietas Bisma
Dan warna bunga jagung yang merupakan varietas bisma yaitu kuning keunguan , seperti yang terlihat pada gambar 6. Tasel dari tanaman CVL dibuang dengan cara Pemotekan. Pemotekan tasel jagung hanya dilakukan untuk bunga jagung yang berwarna selain kuning keunguan atau tasel dari varietas bisma.





                                                                           


               gambar 6. Tasel Jagung CVL






gambar 7. Tasel Jagung Var. Bisma
indicator selanjutnya mengenai penyebab tidak lulusnya sertifikasi benih jagung yaitu dapat diidentifikasi dari warna rambut jagungnya. Seharusnya warna rambut jagung dari varietas bisma berwarna putih keunguan, seperti pada gambar 8. Sedangkan kebanyakan warna rambut jagung yang ditemukan berwarna putih.




                                                   
        gambar 8. Rambut Jagung Var. Bisma



Berdasarkan tabel diperoleh hasil bahwa bobot kering pipil pada kelompok 1 yaitu sebanyak 145,5 kg, sedangkan pada kelompok 2 diperoleh 96,5 kg. Kelompok 3 memperoleh bobot sebanyak 119,6 kg dan kelompok 4 menghasilkan 62,5 kg, serta kelompok 5 memperoleh hasil sebanyak 101,5 kg. Jumlah keseluruhan dari bobot kering pipil yang diperoleh sebanyak 525,6 kg. 
Kementerian pertanian (2010) menyebutkan bahwa rata-rata hasil jagung varietas bisma ini sebesar 5,7 ton/ha pipilan kering dan potensi hasil 7,0-7,5 ton/ha pipilan kering. Jika dilihat dari produktivitas yang dihasilkan, maka produksi benih jagung varietas bisma ini telah memenuhi standar yang ada dideskripsi varietas. Dari luas lahan 0,075 ha diperoleh hasil 525,6 kg, berarti jika dikonversi ke dalam 1 ha diperoleh hasil sebanyak 7,008 ton. Namun karena kemurnian benih yang diperoleh sangat rendah, dibawah standar kelulusan benih bersertifikat, maka menyebabkan benih yang diproduksi tidak lulus sertifikasi.
Standar lapangan untuk benih jagung kelas benih dasar yaitu CVL maksimal 2,0% (Qadir, A. 2013). Sedangkan berdasarkan hasil pemeriksaan pada fase generatif melebihi dari batas standar yang telah ditentukan. Kondisi tanaman dilapang tidak seragam, mulai dari warna taasel yang bermacam-macam, warna pangkal batang serta warna rambut jagung.
Mutu benih adalah faktor penentu keberhasilan penanaman secara ekonomis. Penggunaan benih bermutu rendah akan menghasilkan penanaman yang tidak seragam dengan persentase tumbuh rendah. Mutu benih yang tinggi dicirikan oleh tingkat kemurnian tinggi, daya berkecambah tinggi, vigor tinggi, dan bebas dari penyakit seedborne (Ilyas S: 2012).
Mutu benih menyangkut mutu genetis, fisik, fisiologis dan patologis. Mutu genetis menjabarkan sifat-sifat unggul yang diwariskan dari pohon induknya. Dengan analisis kemurnian dapat dihasilkan benih dengan tingkat kemurnian tinggi, artinya benih harus bebas dari benih varietas atau spesies lain, biji gulma dan kotoran (Ilyas, S : 2012).

KESIMPULAN

Dari kegiatan praktikum produksi benih bersertifikat, dapat disimpulkan benih jagung kelas benih dasar varietas bisma tidak lulus sertifikasi dikarenakan pertumbuhan jagung yang dihasilkan tidak sesuai deskripsi varietas yang telah ditentukan. Hal ini dapat dilihat dari banyak varian bentuk tongkol, warna batang, pangkal batang, warna tasel yang membuat persentase cvl tinggi melebihi standar kelulusan yaitu 2 %. Dan setelah diketahui, kesalahan tidak sepenuhnya ada dipihak produsen . namun kesalahan terjadi dari benih sumber yang digunakan.
Dalam memilih benih sumber produsen diharapkan lebih selektif dan teliti agar tidak terjadi kerugian secara fisik dan financial. Pada proses budidaya harus dilakukan secara rutin dan intensif agar mutu terjaga dengan baik dan tanaman yang dihasilkan sesuai dengan deskripsi varietas agar kemurnian tetap terjaga.


Adnan, A.M. et al. 2010. Deskripsi Varietas Unggul Jagung. Kementerian Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Balai Penelitian Tanaman Serealia. Edisi Keenam Diploma IPB. Bogor [ID]
Ilyas, S. 2012. Ilmu dan Teknologi Benih. Bogor (ID) : IPB Press
Kuswanto, H. 1996. Dasar-dasar Teknologi, Produksi dan Sertifikasi
Benih. Penerbit Andi, Yogyakarta

Purwono. 2008. Bertanam Jagung Unggul, Penerbit Swadaya,Jakarta.Sadjad, S.
1993. Dari Benih kepada Benih, PT Grasindo, Jakarta.

Qadir, A. Widajati, E. et all. 2013. Dasar Ilmu dan Teknologi Benih. Bogor (ID) : IPB Press
Rana. Y.R. dan Sardju. H.S. 2012. Penuntun Praktikum Sertifikasi Benih.
Diploma IPB. Bogor [ID]

Sari, M. Dkk. 2014 . Penuntun Praktikum Praktik Produksi Benih
Bersertifikat. Program Diploma IPB. Bogor [ID]

Lampiran 1. Peta Lahan  Oval: kandang

sungai























Isosceles Triangle: saung
Rounded Rectangle: P
A
R
K
I
R
A
N


Flowchart: Preparation: Rumput IlalangFlowchart: Preparation: Rumput IlalangText Box: Paranet

Lampiran 2. Formulir Permohonan Sertifikasi














Lampiran 3. Peta Lahan













Lampiran 4. Proses Pemanenan






                                                 gambar 9. Proses Pemanenan Tongkol           





                                                               
      gambar 11. Pembuangan Klobot





                                                gambar 12. Pengumpulan jagung Siap Olah

Tidak ada komentar: