icha

Toad Jumping Up and Down

16/08/17

LAPORAN PRAKTIKUM HAMA DAN PENYAKIT BENIH
PREFERENSI Sitophilus spp. TERHADAP BENIH JAGUNG DAN BERAS

Disusun Oleh :
Kelompok A2-3
M. Fahrizal Agdeanto             J3G112081
Agam Baihaqi Habib              J3G112099
Icha Viasti M                          J3G212117
Fahmi Angga Kusuma            J3G212136
Yuli Dewi Sinambela              J3G412135

Dosen :
Dr Ir Rully Anwar, MSi

Asisten :
Arfiani






PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH
DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga laporan praktikum mata kuliah Hama Penyakit Benih ini dapat terselesaikan dengan baik.
 Ucapan terima kasih juga kami tujukan kepada tim dosen mata kuliah Hama Penyakit Benih, yang telah memberikan bimbingan, bantuan dan nasehat, selama praktikum sehingga penulisan laporan ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Serta tidak lupa juga kepada teman-teman TIB angkatan 49 yang telah saling mendukung dan bekerjasama dalam proses pembuatan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan dalam pembuatan laporan di lain waktu. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis sendiri dan bagi masyarakat pada umumnya.



Bogor, 16 Januari 2014



COVER
KATA PENGANTAR............................................................................................ 2
DAFTAR ISI........................................................................................................... 3
PENDAHULUAN.................................................................................................. 4
Latar Belakang..................................................................................................... 4
Tujuan................................................................................................................... 5
TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................... 6
BAHAN DAN METODE....................................................................................... 8
Waktu dan Tempat........................................................................................... 8
Bahan dan Alat................................................................................................. 8
Metode Kerja.................................................................................................... 8
HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................ 10
Hasil............................................................................................................ 10
Pembahasan................................................................................................. 11
KESIMPULAN..................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 14
Tabel Nilai Kontribusi Individu............................................................................. 15
LAMPIRAN.......................................................................................................... 16




Hama adalah hewan atau organisme yang aktivitasnya dapat menurunkan dan merusak kualitas juga kuantitas produk pertanian. Hama berdasarkan tempat penyerangannya dibagi menjadi 2 jenis yaitu hama lapang dan hama gudang/hama pasca panen. Hama lapang adalah hama yang menyerang produk pertanian pada saat masih di lapang. Hama gudang adalah hama yang merusak  produk pertanian saat berada di gudang atau pada masa penyimpanan. Menurut (Kertasapoetra, 1991), hama pasca panen merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan produksi. Hasil panen yang disimpan khususnya biji-bijian setiap saat dapat diserang oleh berbagai hama gudang yang dapat merugikan.
Dalam tiap fase produksi pertanian baik praproduksi maupun pasca-produksi, terjadi gangguan serangga hama yang mengakibatkan penyusutan hasil pertanian. Khusus pada masa pasca produksi atau pasca panen penyusutan hasil pertanian, berdasarkan hasil penelitian BULOG, mencapai 15% (Kartasapoerta, 1989).
Sitophilus oryzae bersifat polifag dapat menyerang berbagai jenis biji-bijian seperti beras, jagung dan kacang tanah. Selama ini Sitophilus oryzae secara umum masih dianggap sebagai hama terbatas pada produk pertanian tertentu(beras). Dengan demikian kehadirannya pada produk lain terkadang masih diabaikan. Secara pasti preferensi Sitophilus oryzae pada beberapa jenis biji-bijian belum diketahui.
Sedangkan Serangan hama, terutama yang tergolong ordo Coleoptera dan Lepidoptera merupakan salah satu penyebab kerusakan biji-bijian atau bahan pangan yang disimpan dalam gudang. Sitophilus oryzae merupakan hama pasca panen utama yang menyerang biji-bijian dalam penyimpanan. Hama ini bersifat kosmopolit dan mempunyai daerah penyebarab yang luas terutama di daerah tropis dan subtropis.

            Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui preferensi Sitophilus spp. pada benih jagung dan beras.





Di daerah tropis Sitophilus sp. merupakan hama gudang utama pada komoditi serealia dan sering dijumpai baik sewaktu tanaman masih di lapangan maupun setelah di gudang (Porntip dan Sukpraharn, 1974; Teetes et al., 1983). Hasil survey di Honduras Sitophilus sp. hampir selalu ditemukan di gudang penyimpanan serealia (Hoppe, 1986). Selain Sitophilus sp. hama lain yang umum ditemui adalah Rhyzoperta dominica, Sitotroga serealella dan Ephis cautella..  Diantara hama gudang yang diketahui, S. zeamais merupakan hama utama pada komoditas serealia dalam masa penyimpanan bahan. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan dapat mencapai di atas 30%. Faktor-faktor yang mempercepat laju kumbang bubuk tersebut adalah tingginya kadar air awal penyimpanan, suhu, kelembaban udara dan rendahnya mutu biji di tempat penyimpanan (Bejo, 1992). Akibat serangan S. zeamais dapat menurunkan berat biji yang sangat drastis, sedang pada beras serangan cukup ringan (Morallo dan Javier, 1980). Kerusakan yang diakibatkan oleh hama gudang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas biji. Penurunan kualitas akibat hama gudang berdampak negative.
Beberapa Inang dari serangga Sitophilus spp adalah beras, jagung, gandum, gaplek, Vermicelli dan macaroni. kerusakan yang timbul akibat serangan Sitophilus spp pada komoditas yang diserang adalah terjadi lubang dan bertepung (opete.info).
Kumbang Sitophilus oryzae merupakan anggota dari klas insecta. Famili Curculionidae mudah dikenal dengan adanya moncong atau rostum pada bagian mulut. Pada Sitophilus oryzae betina disamping untuk menggerek biji pada waktu makan, rostum uga berfungsi untuk membuat lubang tempat meletakkan telur (Imms, 1960). Seperti halnya anggota Curculionidae lainnya, Sitophilus oryzae  mempunyai lapisan kitin yang cukup keras. Sifat khas pada Sitophilus oryzae yaitu bila mendapat gangguan, kumbang ini akan pura-pura mati dengan melipatkan atau menarik tungkainya dan tidak bergerak (Kalshoven, 1981). Daerah penyebaran Sitophilus oryzae meliputi hampit di berbagai daerah. Variasi yang ada dari famili Curculionidae terlihar pada ukuran tubuh, bentuk serta ukuran rostum. Anggota sub. Famili Rhyncoporinae  merupakan kelompok kumbang moncong yang menyerang butian, atau dikenal dengan istilah “Billbug”. Sitophilus oryzae sebagai salah satu anggota kumbang ini merupakan hama potensial pada produk pertanian (Borror, 1992).
Sitophilus oryzae sewaktu masih muda berwarna merah kecoklatan, sedangkan pada umur yang paling tua berwarna coklat hitam. Pada bagian elitra terdapat empat bintik hitam. Ukuran tubuh ± 2-3,5 mm (Mangudiharjoo, 1978 dan Kalshoven 1981). Bagian mulut yang memanjang atau rostrum digunakan untuk merusak biji-bijian yang mempunyai kulit cukup keras (Rismunandar, 1985). Antena atau sungut berbentuk menyiku dan terdiri dari delapan ruas (Bejo, 1992).
Stadium larva. Larva tidak berkaki (apodus) berwarna putih kekuningan, bentuk bulay serta aktif bergerak. Stadium larva berlangsung 18 hari dan mengalami tiga kali instar. Tiap instar diikuti dengan eksdisis (Mangudiharjo, 1978).
Stadium pupa. Larva yang akan berubah menjadi pupa membuat rongga dalam biji. Pupa berwarna kecoklatan, bentuk seperti keadaan dewasa yang tidak aktif. Bagian kaki dan moncong masih menyatu. Stadium ini berlangsung 5-7 hari (Mangudiharjo, 1978 dan Bejo, 1962). Stadium pupa merupakan stadium yang tidak aktif menggerek biji.
Imago. Perkembangan pupa berlanjut menjadi kumbang dewasa atau imago. Imago yang baru terbentuk akan tetap berada didalam biji untuk beberapa waktu. Menurut Sutyoso 1964, Kartasapoerta, 1967) imago yang baru akan berada dalam biji kira-kira lima hari. Masa imago keluar sampai bertelur disebut masa pre-oviposisi. Pada masa ini imago mengalami pemantangan seksual dan melakukan perkawinan. Masa pre-oviposisi ini dipengaruhi oleh suhu, kelembaban dan media (Kartasapoerta, 1967).


            Kegiatan praktikum Hama dan Penyakit Benih ini dilaksanakan di Laboratorium CA BIO kampus Diploma IPB, pada tanggal 30 November 2014, pukul 11.20 sampai selesai.
Bahan yanng digunakan dalam praktikum ini adalah benih jagung (20 gr), beras (20 gr), dan serangga Sitophilus spp.
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah nampan, aspirator, timbangan digital, gunting, cup plastic kecil, tutup, selotip, jarum, dan label.
1.      Alat dan bahan disiapkan
2.      Masing-masing benih jagung dan beras ditimbang 20 gram dan dimasukkan kedalam wadah cup plastic kecil
3.      Serangga Sitophilus spp yang berada didalam wadah, diambil dengan menggunakan aspirator
4.      Serangga Sitophilus spp dimasukkan kedalam cup plastic berisi benih jagung dan beras masing-masing sebanyak 10 Sitophilus spp ( @ terdiri dari 5 pasang)
5.      Masing-masing wadah cup ditutup
6.      Untuk menjaga supaya serangga tidak hilang/kabur, pada bagian tutup direkatkan menggunakan selotip
7.      Pada bagian tutup dilubangi menggunakan jarum untuk sirkulasi serangga Sitophilus spp
8.      Pemasangan label ( Kelompok ke- dan tanggal pengujian)
9.      Benih di inkubasikan pada suhu ruang selama 4 minggu
10.  Pengamatan dilakukan pada minggu ke-4
11.  Parameter yang diamati meliputi
-          Æ© Telur
-          Æ© Larva
-          Æ© Pupa
-          Æ© Imago
-          Æ© Total serangga






Tabel. Preferensi Sitophilus spp terhadap Benih Jagung dan Beras
Serangga
Komoditas
Kelompok
Jumlah
Æ© Total
Telur
Larva
Pupa
Imago
S
i
t
o
p
h
i
l
u
s
spp
Jagung
1
0
0
0
20
20

2
0
0
0
40
40

3
11
0
0
14
25

4
0
0
0
33
33

5
0
5
1
32
38

6
0
0
0
23
23


1.83
0.83
0.16
27
29.83
Beras
1
0
0
0
11
11

2
0
0
0
24
24

3
0
0
0
10
10

4
0
0
0
10
10

5
0
0
0
10
10

6
15
9
3
26
53


2.5
1.5
0.5
15.16
19.66







Berdasarkan data kelas diatas, dapat dibahas bahwa pada benih jagung memiliki rata-rata jumlah telur 1.83 butir, rata-rata jumlah larva 0.83 ekor, rata-rata jumlah pupa 0.16, dan rata-rata jumlah imago 27 ekor. Sedangkan pada beras, rata-rata jumlah telur yaitu 2.5 butir, rata-rata jumlah larva 1.5 ekor, rata-rata jumlah pupa 0.5, dan rata-rata jumlah imago 15.16 ekor. Sehingga dapat diketahui bahwa inang yang paling banyak dinfestasi oleh Sitophilus spp secara keseluruhan yaitu pada inang benih jagung. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan, kemungkinan yang pertama yaitu serangga sitophilus spp yang diuji merupakan serangga sitophilus Zea mays bukan serangga sitophilus oryzae, karena menurut literatur Sitophillus oryzae akan menyukai jenis beras yang memiliki kualitas beras yang baik (Kartasapoetra, 1991). Menurut Suyono dan Sukarno (1985), Kualitas dan kuantitas makanan berpengaruh terhadap preferensi serangga. Agar makanan tersebut memberi pengaruh baik, maka harus tersedia dalam jumlah yang cukup dan kandungan nutrisinya sesuai dengan yang dibutuhkan. Keadaan biji seperti bentuk biji, kekerasan kulit, warna dan adanya kandungan zat kimia tertentu berpengaruh pula pada preferensi serangga. Kemungkinan yang kedua yaitu Serangga Sitophilus spp biasa hidup di Zea mays. Dengan kata lain habitat asli dari serangga Sitophilus spp yang diuji yaitu jagung.
Sedangkan berdasarkan data kelompok kami yaitu kelompok A2-3 didapatkan hasil bahwa pada benih jagung memiliki rata-rata jumlah telur 11 butir, rata-rata jumlah larva 0 ekor, rata-rata jumlah pupa 0, dan rata-rata jumlah imago 14 ekor. Sedangkan pada beras, rata-rata jumlah telur yaitu 0 butir, rata-rata jumlah larva 0 ekor, rata-rata jumlah pupa 0, dan rata-rata jumlah imago 10 ekor. Sehingga dapat diketahui bahwa inang yang paling banyak dinfestasi oleh Sitophilus spp secara keseluruhan yaitu pada inang benih jagung. Sama seperti pembahasan sebelumnya bahwa serangga Sitophilus spp yang diuji merupakan sitophilus Zea mays dan inang asalnya berasal dari inang Zea mays.
Pengujian preferensi Sitophilus spp terhadap benih jagung dan beras tersebut seharusnya akan berdampak pada bertambahnya jumlah koloni Sitophillus spp, akan tetapi selama pengamatan ± 4 minggu tidak terjadi penambahan jumlah koloni Sitophillus spp. Hal ini dikarenakan masa hidup Sitophilus spp relatif cukup lama. Pada kumbang betina mampu bertahan selama ± 36 hari tanpa makanan, sedangkan bila makanan terpenuhi mencapai tiga atau lima bulan (Kalshoven, 1981). Menurut Suyono dan Sukarno (1985), indikator terhadap preferensi serangga pada biji-bijian ditentukan oleh jumlah telur yang diletakkan oleh induk betina, jumlah telur yang menetas menjadi imago, dan lama daur hidup. Makin besar jumlah telur yang diletakkan dan makin banyak imago yang terbentuk serta semakin pendek daur hidupnya menunjukkan preferensi serangga pada biji makin besar.
Indikator lain yang mempengaruhi sitophilus spp lebih menyukai inang jagung yaitu, kenaikan suhu lingkungan yang mampu meningkatkan aktivitas makan. Fluktuasi suhu harian juga berpengaruh. Serangga yang hidup pada suhu konstan tinggi masa perkembangannya lebih singkat daripada suhu fluktuatif (walaupun dengan rata-rata suhu yang sama tinggi). Sementara itu pada suhu konstan rendah, masa perkembangannya lebih lama dibandingkan suhu fuktuatif dengan rata-rata sama rendah.
Kadar air bahan simpan/kelembaban udara mempengaruhi lama stadium larva. Kadar air bahan simpan yang rendah memperlama stadium larva, tetapi stadium telur dan pupa tidak terpengaruh sehingga hal ini mengubah keseimbangan struktur umur dalam populasi yang sudah stabil. Suhu lingkungan dan kelembaban di penyimpanan bisa saja sebagai sebab atau akibat dari keberadaan hama. Serangga membutuhkan kisaran suhu dan kelembaban optimum untuk perkembangannya. Sementara itu metabolisme serangga juga menghasilkan kalor dan uap air ke lingkungannya. Terakhir, misalnya pada Sitophilus terdapat variasi masa perkembangan antarindividu yang cukup besar. Keragaman intrinsik seperti ini biasanya menguntungkan secara ekologis. Serangga biasanya memiliki kisaran suhu optimum. Sedikit saja di luar kisaran suhu tersebut, suhu optimum pertumbuhan adalah 25-37.5˚C. Ketahanan hidup akan turun drastis di luar kisaran tersebut. (Kartasapoetra, 1991)

            Berdasarkan pembahasan dari data kelas dan data kelompok pada pengujian preferensi Sitophilus spp pada jagung dan beras, dapat disimpulkan bahwa preferensi Sitophilus pada jagung lebih besar daripada preferensi Sitophilus pada beras. Salah satu faktor yang menyebabkan perbedaan tingkat kerusakan atau preferensi serangga adalah mutu dari benihj itu sendiri.






















Bedjo, 1992. Pengaruh kadar air awal biji Jagung terhadap laju infeksi kumbang bubuk dalam Astanto et.al(ed). Risalah Hasil Penelitian Tanaman Pangan Malang Tahun 1991. Balai penelitian Tanaman Pangan Malang p. 294-298

Hoppe, T. 1986. Storage insects of basic food grain in Honduras. Tropical Science.26:25-28.
Kartasapoetra. 1991. Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang. Jakarta: PT RINKA CIPTA.
Morallo Rejesus,B.Javier,P.A.1980. Laboratory assessment of damage caused by Sitophilus spp and Rhizopertha dominica in stored grain, in sorghum and unillets abstract, CA.B April 1982. Vol.7 No 1. Abstract 1-120

Porntip, V. and C. Sukpraharn. 1974. Current problems of pest of stored products in Thailand. In pest of stored products. Biotrop Special Pub. No.33. hal.45-53

Rismunandar, 1986. Hama Hasil Tanaman Pangan dan Pembasminya. Penerbit Sinar Baru, Jakarta.
Suyono dan Sukarno, 1985. Preferensi Kumbang C. analis F. Pada Beberapa Jenis Kacang-Kacangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.

Syarif, R.,dan Halid, H., 1992. Teknologi Penyimpanan Pangan. Arcan, Jakarta.

Suyono dan Sukarno, 1985. Preferensi Kumbang C. analis F. Pada Beberapa Jenis Kacang-Kacangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.

Teetes, G.L., K.V.S. Reddy, K. Leuschener and L.R. House. 1983. Sorghum Insect Identification Hand Book. International Crops Research Institute for the Semi Arid Tropics.Information Bulletin no.12.

http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp10232.pdf diakses pada tanggal 31 Mei 2012. [diunduh pada 25 Desember 2013]

balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/images.[diunduh pada 17 januari 2014]
http://blog.ub.ac.id/dodikkurniawan/2013/02/18/preferensi-sitophilus-oryzae-terhadap-beberapa-jenis-beras-serta-evaluasi-kesehatan-benih-jagung-dan-kedelai-terhadap-patogen-benih/ [diunduh pada 17 januari 2014]

http://infonesiia.wordpress.com/2012/04/06/sitophilus-oryzae/[diunduh pada 17 januari 2014

Kelompok: A2-3

 




Tidak ada komentar: